AI Bukan Lagi Opsional: HYBE dan SM Entertainment Berlomba di Infrastruktur AI untuk Musik Global
HYBE dan SM Entertainment Bangun Sistem AI untuk Industri Musik Global
K-pop tidak lagi sekadar soal musik dan koreografi. Dua perusahaan hiburan terbesar Korea Selatan, HYBE dan SM Entertainment, kini bersaing membangun tumpukan teknologi kecerdasan buatan yang mengubah cara industri musik beroperasi secara fundamental. Persaingan ini bukan sekadar gengsi , ini menyangkut strategi bisnis jangka panjang untuk merambah pasar global dengan efisiensi produksi yang belum pernah terjadi sebelumnya.
HYBE dan Supertone: Audio AI dari Hulu ke Hilir
HYBE mengambil pendekatan yang agresif dan teknis. Pada 2022, perusahaan induk BTS ini mengakuisisi mayoritas saham Supertone, startup AI audio asal Seoul yang didirikan pada 2020. Akuisisi senilai sekitar 32 juta dolar AS ini bukan investasi pasif , HYBE langsung mengintegrasikan teknologi Supertone ke dalam lini produksi musiknya.
Hasil paling nyata adalah Project Midnatt. Pada April 2023, HYBE merilis lagu “Masquerade” yang dinyanyikan oleh Midnatt, alter ego dari artis Big Hit Music, Lee Hyun. Lagu ini dipasarkan sebagai trek multibahasa pertama di K-pop: dinyanyikan dalam Bahasa Korea, Inggris, Jepang, Mandarin, Spanyol, dan Vietnam. Supertone menganalisis gaya vokal Lee Hyun, lalu menerapkan data pelafalan dari penutur asli untuk menyempurnakan pengucapan di setiap bahasa. Hasilnya, satu suara terdengar natural dalam enam bahasa sekaligus.
Dari situ, Supertone berkembang menjadi platform voice AI yang lengkap. Pada Februari 2025, mereka meluncurkan Supertone Play, layanan text-to-speech dengan 150 karakter suara yang bisa digunakan untuk konten berita, buku audio, gim video, dan podcast. Fitur voice cloning-nya mampu menciptakan karakter suara dari rekaman pengguna hanya dalam 10 detik. Setiap file audio yang dihasilkan dibubuhi watermark digital untuk mencegah penyalahgunaan.
Supertone juga merilis Shift, aplikasi pengubah suara real-time untuk gamer dan streamer, serta Clear dan Air, plugin audio untuk de-noising dan pencocokan EQ yang ditargetkan untuk produser konten profesional. HYBE jelas tidak hanya membangun alat internal , mereka menciptakan ekosistem produk AI audio yang bisa dijual ke pasar B2B dan B2C.
SM Entertainment: AI sebagai Narasi dan Fondasi Teknis
Pendekatan SM Entertainment berbeda. Pendiri SM, Lee Soo-man, sudah memprediksi sejak awal 2010-an bahwa hiburan akan berevolusi menjadi “dunia robot dan avatar.” Visionya terwujud pada November 2020 ketika SM mendebutkan aespa, girl group dengan konsep metaverse yang menyatukan anggota manusia dengan avatar AI yang disebut “ae.”
Konsep ini dibungkus dalam SMCU (SM Culture Universe), sebuah narasi besar yang menghubungkan dunia fisik dan virtual melalui musik. Anggota aespa berinteraksi dengan versi AI mereka, melawan entitas jahat Black Mamba, dan menjelajahi platform metaverse Kwangya. Cara ini membuat kecerdasan buatan bukan sekadar alat produksi, melainkan bagian dari cerita yang membuat penggemar terus terlibat.
Di sisi teknis, SM tidak tinggal diam. Pada September 2025, SM bermitra dengan startup musik asal Korea, Verses Inc, untuk mengembangkan Rappie , platform pembuatan lagu rap berbasis AI. Pengguna cukup mengetik teks, dan Rappie menghasilkan lirik rap, vokal, hingga video dengan avatar AI yang menampilkan ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang tersinkronisasi. Teknologi ini dibangun di atas kerja Verses sebelumnya dengan aespa dalam mengembangkan pengalaman musik metaverse di ZEPETO, platform metaverse Naver Z yang mendapat pengakuan dari Google dan Nvidia.
SM juga memperkenalkan Naevis, artis virtual pertama mereka yang muncul dalam video aespa pada 2021 dan kemudian dikembangkan sebagai proyek mandiri bekerja sama dengan LG Uplus untuk konten berbasis AI. Langkah ini menempatkan SM di jalur yang sama dengan HYBE: menghasilkan pendapatan dari artis virtual yang tidak memerlukan hiatus untuk wajib militer atau istirahat.
Perbandingan Dua Pendekatan
| Aspek | HYBE (Supertone) | SM Entertainment |
|---|---|---|
| Pendekatan | Teknis-operasional | Naratif-konseptual |
| Produk Unggulan | Supertone Play, Shift, Clear | aespa, SMCU, Naevis |
| Target Pasar | B2B (API) + B2C (creator tools) | Fan engagement + metaverse |
| Teknologi Inti | Voice synthesis, real-time voice conversion | AI avatar, motion capture, AI rap gen |
| Kolaborasi | Midnatt maskapai HYBE IM | Verses, LG Uplus, ZEPETO |
| Monetisasi | SaaS, subscription, licensing | Konten virtual, IP abadi, fansign |
Kedua perusahaan ini membuktikan bahwa kecerdasan buatan bukan lagi sekadar percobaan di industri K-pop. Korea Herald, dalam laporan Januari 2026, menegaskan bahwa AI sudah menjadi standar baru, bukan lagi opsi yang bisa diabaikan. HYBE dan SM mengambil jalur berbeda, tetapi tujuannya sama: menciptakan aliran pendapatan yang tidak tergantung pada jadwal tur atau wajib militer artis.
Data Kunci
Goldman Sachs memperkirakan pasar global untuk monetisasi superfan mencapai 4,5 miliar dolar AS pada 2026. HYBE sendiri mencatat rekor pendapatan 2,65 triliun won pada 2025, di mana 28 persennya berasal dari platform fan D2C seperti Weverse.
Apa Artinya untuk Industri Teknologi?
Persaingan HYBE dan SM membuka peluang besar bagi perusahaan teknologi. Kebutuhan akan voice synthesis yang semakin realistis berarti permintaan tinggi untuk ahli machine learning dan natural language processing. Platform fan berbasis AI membutuhkan insinyur backend yang mampu menangani jutaan pengguna simultan. Dan artis virtual memerlukan tenaga ahli di bidang computer graphics, motion capture, dan real-time rendering.
Di Indonesia, tren ini relevan untuk dipelajari. Industri kreatif lokal bisa mengadopsi model serupa: artis virtual berbahasa daerah, platform fan berbasis langganan, atau produksi konten multibahasa tanpa harus merekam ulang vokal. Teknologi yang dikembangkan HYBE dan SM menunjukkan bahwa investasi di AI untuk hiburan bukan proyek sampingan, melainkan fondasi bisnis masa depan.
“Play menandai langkah maju yang signifikan dalam membuat teknologi suara AI lebih mudah diakses dan serbaguna bagi kreator di seluruh dunia. Dengan sintesis ucapan yang sangat ekspresif dan alami, Play memungkinkan kreator menghidupkan cerita mereka dengan cara yang baru dan dinamis.”
– Kyogu Lee, Presiden Supertone
Dua Jalur Menuju Satu Masa Depan
HYBE membangun dari bawah ke atas: menguasai teknologi suara, lalu mengaplikasikannya ke musik, hingga melebarkan sayap ke produk SaaS untuk kreator di seluruh dunia. SM bergerak dari atas ke bawah: menciptakan narasi yang membuat AI terasa organik bagi penggemar, lalu mengisi kebutuhan teknis di belakang layar. Dua strategi yang berbeda, tetapi sama-sama efektif.
Yang jelas, industri K-pop sedang mengalami transformasi yang tidak bisa diabaikan oleh siapa pun yang bergerak di bidang teknologi dan hiburan. Perusahaan yang mampu memahami dan memanfaatkan persimpangan ini akan memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan.